"Kalau sudah besar nanti, Dio mau jadi astronot. Nanti kita sama-sama ke bulan ya, Kak..."

Dio menunduk memandangi kolam di bawahnya yang memanjang membentuk persegi panjang. Kolam itu terisi penuh oleh air dingin yang tenang dan bening.

"Apa yang kamu harapkan dari pekerjaan sebagai astronot? Sudahlah, lebih baik bantu abangmu di kantor.."

"Papa tidak mengerti! Dio sudah lama bermimpi jadi astronot!"

"Buanglah mimpi itu jauh-jauh! Lihat abangmu."

"Ya, Fandy, Fandy dan Fandy! Kenapa sih Papa hanya memikirkan Fandy?! Dio ini anak Papa juga kan? Apa Papa tahu Dio jadi juara sekolah? Apa Papa tahu Dio menjuarai cerdas cermat? Kapan Papa pernah peduli sama Dio tanpa harus membandingkan Dio dengan Fandy?!"

Dihirupnya udara malam. Gundahnya hilang sesaat. Ia bangkit, merenggangkan otot sebentar, menarik nafas. Merasakan angin berbisik lembut. Dio mencondongkan tubuhnya ke depan dan meluncur. Air bergejolak. Menerjang tubuhnya sementara di dalam kepalanya telah dipenuhi oleh berbagai macam bayangan kehidupan.

"Aku tahu apa yang kamu inginkan jauh lebih berharga dari apa yang telah kamu gapai dan apa yang kamu impikan jauh lebih berarti dari apa yang telah kamu raih.."

Kedua lengan kokoh milik Dio menyibak air. Kakinya mengepak mengikuto arus yang tenang. Tubuhnya meluncur hingga ujung kolam. Air bening dengan lantai biru serta cahaya lampu putih menyebar.

"Aku adalah Sagitta yang terletak di utara ekuator. Sehingga di manapun kau berdiri, kau selalu dapat melihatku.."

Kepala Dio keluar dari dalam air. Ia mengusap wajahnya seraya mengambil nafas dan kembali masuk ke dalam air untuk berenang ke tempat semula. Kemudian ia keluar dari kolam dan mengambil handuknya. Dio benar-benar galau.

Dio melangkah masuk ke dalam rumah menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol jus jeruk, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Dio meneguk jus jeruknya. Cairan manis itu membuat gejolak di dadanya sedikit mereda.

"Habis berenang, Den?" tanya Mbok Nah yang tiba-tiba saja suda ada di dekatnya.

Dio menjawab dengan senyum. Ia meletakkan gelas di pantry.

"Non Luna sudah pulang, Mbok?" tanya Dio.

"Belum, Den." jawab Mbok Nah.

Dio berjalan meninggalkan dapur, namun kata-kata Mbok Nah selanjutnya membuatnya menghentikan langkah dan berpikir sejenak.

"Kalau saja rumah ini bisa seramai dulu ya, Den?"

Dio tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri bingung dengan kecamuk yang tak pernah berhenti mendera dadanya. Dio melanjutkan langkahnya.

 

êð

Sebuah kran di wastafel dibuka. Air mengucur deras. Bening tanpa henti. Mengalir hingga muara, yang entah di mana batasnya.

Dio meletakkan kepalanya di bawah kran tsb, meredakan panas kepalanya yang terasa penuh. Air menghujam kepalanya terasa menyejukkan.

"Kamu hanya memikirkan kepentinganmu sendiri tanpa peduli perasaan orang lain. Kamu hanya ingin dirimu yang bahagia dengan melihat orang lain menderita.."

Marsya..

Dio mengangkat kepalanya dari bawah kran. Malam terasa sunyi di tengah kesendirian. Ia tidak mengerti bagaimana kehidupan membawanya pergi. Mengembara bersama satu pilihan. Ah, mengapa ia begitu bodoh? Mengapa ia biarkan dirinya memilih dan segalanya menjadi lain?

"Kejarlah impianmu selagi kamu bisa. Terkadang kita tak mampu menghalau apa yang sudah terjadi, sementara mimpi tetap mengambang di sini.."

Luna...

Fandy...

Papa dan Mama...

Luka itu menganga.

Salahkah ia menginginkan sebuah kebebasan? Saat semua tak mau peduli?

Dio duduk di pinggir ranjang. Menatap suram lantai kamarnya. Terbayang kembali semua kebersamaan. Ia tidak tahu, apakah benar apa yang telah dipilihnya? Ataukah mimpi itu sebenarnya adalah Marsya?

Dio telah menempuh garis-garis petualangan dengan mimipi yang tumbuh. Hidupnya mengalir bagaikan air sungai. Hidup memberinya banyak pelajaran akan suatu hal. Termasuk harapan, sesal dan rasa sakit...

Dio terisak..

êð