Sastra adalah pembebasan kira-kira itulah pandangan yang umum dikumandangkan para penganut Marxist literary criticism, akan tetapi kali ini saya tidak ingin membicarakan bagaimana Marx melihat
sebuah karya, akan tetapi bagaimana sastra membebaskan kita dari
belenggu kehidupan, atau malah melihat pengalaman yang belum pernah
kita rasakan.
Dalam Life Of Pi karya Yann Martel, dia mengisahkan mengenai bagaimana seorang anak dapat bertahan hidup bersama seekor macam
Bengal berumur empat tahun selama kurang lebih tujuh bulan di dalam sekoci di tengah lautan. Jelas karya yang memangkan The Man Booker Prize Award menjadi sebuah karya yang membebaskan kita dari belenggu kubistis, begitulah menurut Todorov mengenai Space Arcade yang menaungi kita selama hidup.
Mungkin
agak membingungkan, namun yang saya tuju pada uraian singkat ini adalah
bagaimana saya menyelami sebuah teks pop melalui jalur kritik sastra
non-pop. Dalam beberapa karya pop yang lain mungkin saja karya itu
terbunuh sebelum dibedah, akan tetapi saya melihat kekuatan Rindu (yang—mungkin—bergenre pop) bisa kita naikkan kelas menjadi sastra serius, kenapa tidak?
Apa yang membuat saya bisa mengatakan demikian karena kekuatan yang dimiliki Rindu adalah pada bagaimana kedua tokoh sentral yaitu Zahra dan Krisna saling
bercengkrama. Kedua tokoh ini memiliki absurditas humanis
sendiri-sendiri mungkin sebagai tolak ukur bisa kita lihat tokoh Fanton
Drumond dan Olenka dalam karya Budi Darma yaitu Olenka.
Tentu saja keabsurditasan yang dimiliki oleh Zahra dan Irfan hanya bisa
disandingkan dengan bagaimana Zahra dan Krisna masih dalam batasan good Samaritans.
Karakter yang dibangun dalam Rindu yaitu Zahra dan Krisna adalah dua tokoh abu-abu, pun pembaca dibebaskan untuk memihak ‘What if’
pada setiap tokoh. Pola komunikasi dan keterikatan psikologi keduanya
adalah alasan yang kuat kenapa novel ini seharusnya naik kelas.
Kendati
berada dalam ranah pop kekurangan yang dimiliki novel ini yang menurut
saya malah menjatuhkan nilai estetisnya adalah bagaimana konsistensi
bahasa pada bentuk narasi di luar dialog. Pun deskriptif yang aktif dan
multilingual kadang membuat lelah, kadang membuat cerah. Secara keseluruhan saya suka dengan novel Rindu ini,
suka karena tahu bahwa selama ini Indonesia adalah Negara yang buta
menulis dan gagap membaca, suka karena saya tahu sebenarnya pendapat
itu bisa kita patahkan bersama. Satu penutup dari Pram “Tahu kenapa aku
benar-benar mencintaimu? Itu karena kau menulis, dan dengan itu kau
akan abadi” Kira-kira begitu bunyinya. Kekurangan tentu banyak dari
tulisan ini, akan tetapi mari kita duduk bersama minum kopi dan
berdiskusi, bukankah itu menyenangkan?