HOME      Interview
Interview







Sefryana Khairil atau Sefry, atau yang akrab juga disapa Riri, lahir di Jakarta, 29 September 1988. Ia mulai menulis sejak di SMP. Berawal dari kesenangannya membaca sejak kecil, terutama fairy tale seperti Sangkuriang, Roro Jonggrang, Mahabarata, atau bahkan cerita-cerita H.C. Andersen, dia mencoba menuangkan ide-idenya lewat buku harian. Hobi membacanya terus berlanjut hingga sekarang, membuat buku-buku di dua lemari besarnya tidak cukup mendapat tempat. Selanjutnya ia terus menulis dan menerbitkan buku. Hebatnya, dua novelnya sebelum Tanah Air Beta, yaitu Dongeng Semusim dan Rindu terbitan GagasMedia, mencapai bestseller dalam waktu yang hampir bersamaan. Tak heran, seseorang ngomong ke dia, "Ini memang tahunnya Sefry!"

 

Untuk penulisan novel adaptasi Tanah Air Beta, Sefry menyisihkan cukup banyak pelamar. Namun setelah terpilih, jalan yang harus dilaluinya tidaklah mudah. Hanya pengarang bermental baja yang dapat memikul tanggung jawab yang tak ringan ini. Berikut, simak percakapan singkat kami dengannya:

Dari mana kamu tahu bahwa Alenia Pictures sedang menyiapkan film Tanah Air Beta?
Saya tahu dari media cetak yang menulis kalau Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen sedang mempersiapkan film terbaru mereka yang akan berlokasi di Atambua sekitar akhir tahun lalu.

Apa yang membuat kamu tertarik untuk melamar menjadi penulis novel TAB?
Saya tertarik karena, pertama, saya tahu Alenia Pictures selalu membuat film-film yang memberikan nilai edukasi sangat baik. Bisa dilihat di Denias dan King, cerita-cerita yang dirangkai begitu menyentuh dan menyentak hati nurani. Kedua, saya tahu Alenia Pictures sedang membuat film Tanah Air Beta dan ketika Gradien Mediatama memberi kabar sedang membutuhkan penulis untuk film tersebut, saya merasa sangat sayang untuk melewatkan kesempatan ini.

Untuk keperluar penulisan, di mana kamu menonton film TAB? Berapa kali?
Saat menulis novel Tanah Air Beta, saya menonton film tersebut dua kali di kantor Alenia. Pertama kali menonton untuk mengetahui cerita lengkapnya, kedua kali untuk mengerti detail cerita, merasakan feel setiap adegan, serta mencatat apa saja yang diperlukan.

Efektif berapa hari, tepatnya berapa begadang, kamu menuliskan novel ini?
Saya efektif menulis lima hari.

Apa kesulitan tersulit dalam penulisan novel ini? Kapok tidak?
Kesulitannya mungkin ada pada percakapan. Karena bahasa yang digunakan tidak pernah saya dengar dan ada beberapa dialog improvisasi dari tokoh, saya perlu mendengarkan berulang kali dan melihat gerak mulutnya. Selebihnya, mengerjakan novel ini sangat menyenangkan dan menjadi sesuatu hal baru untuk saya.

Bagaimana support pihak Alenia Pictures bagimu?
Alenia Pictures baik dari Mas Ale, Mbak Nia, asisten, editor film, dan semua yang saya temui sangat mendukung dan sangat membantu saya. Saya merasa bukan orang yang sekadar hadir, tetapi 'ada' di antara mereka. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Alenia Pictures.

Apakah kamu mendapatkan 'sesuatu' dalam penulisan novel ini?
Seperti yang telah saya ungkapkan, menulis novel adaptasi Tanah Air Beta adalah hal luar biasa untuk saya. Novel ini ikut juga membuat saya tersadar, kita mungkin terpisah oleh hal yang tidak bisa kita hindari--referendum misalnya--tapi, apa yang kita miliki, apa yang kita perjuangkan, apa yang kita sayangi, sungguh tidak dapat memisahkan apa pun.


Gradien Mediatama